2 Apr 2012

Rupa-rupa Cover Adele "Someone Like You"

Seperti "Rolling in the Deep", singel Adele yang satu ini juga begitu mewabah dengan target pasar utama: para penganut 'galauisme'. Lagu ini bahkan sampai dianalisis dari sisi ilmiah di sebuah artikel, dengan judul yang sangat menohok: "Anatomy of a Tearjerker: Why does Adele's 'Someone Like You' make everyone cry? Science has found the formula."

Saya tak punya kapasitas berlebih dalam men-judge apakah lagu ini 'berbahaya' bagi kondisi kejiwaan manusia. Tapi inilah era galau, ketika lagu ini justru membawa Adele berjaya di ajang Grammy Award 2012, dengan memborong 6 piala dari 6 nominasi. Album 21 pun didapuk menjadi album terlaris dalam sepuluh tahun terakhir...

Tak pelak, lagu ini pun banyak dicover oleh para musisi. Nah, pada postingan kali ini, saya bagikan lima contoh dari sekian banyak cover-an tersebut. Semoga Anda terhibur dan tidak ikut-ikutan mewek...

1. Versi Boyce Avenue



Suara kang Boyce yang menye-menye sangat sesuai untuk menyanyikan lagu ini. Dijamin itu para wanita galau tambah klepek-klepek deh.

2. Versi Connie Talbot



Masih saja, naluri pedobear ini susah hilangnya *me gusta*... Tetapi suara seperti milik Connie susah untuk ditinggal dari daftar versi cover favorit saya...

3. Versi Dia Frampton



Dia adalah alasan saya ikut-ikutan mantengin The Voice. Suaranya agak gimana gitu, kayak ogah-ogahan nyanyi tapi jatuhnya malah bikin merinding. Oh ya, kalo ngeliat wajahnya saya kok jadi ingat Mbak Memeth ya? Hohoho...

4. Versi Ello



Dari dalam negeri, saya pernah denger Ello menyanyikan lagu ini di salah satu acara di MetroTV. Sayang saya tidak menemukan versi yang dimaksud, tetapi gaya main dan nyanyinya hampir sama lah dengan versi yang ini.

5. Versi, umm, Dewi Persik



Aduh, no komen dah kalo yang satu ini...

===========================================================
Dan sebagai bonus, ini dia liriknya:

I heard that you're settled down
That you found a girl and you're married now.
I heard that your dreams came true.
Guess she gave you things I didn't give to you.

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light.

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead,
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, "
Yeah

You know how the time flies
Only yesterday was the time of our lives
We were born and raised
In a summer haze
Bound by the surprise of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I'd hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."
Yeah

Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
They are memories made.
Who would have known how bittersweet this would taste?

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead,
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."
Yeah

28 Mar 2012

Polisi yang Tertidur

Jangan takut Polisi, kalau tidur kita gilas...
(The Panas Dalam - Lagu Timur)

Satu hal paling mengesalkan dari jalanan kampung adalah bertebarannya polisi tidur. Bahkan tak jarang, sarana yang dalam definisinya disebut sebagai "alat pembatas kecepatan" itu jumlahnya belasan, bahkan puluhan dalam satu ruas jalan. Jaraknya pun tak tanggung, bahkan ada yang tiap lima-sepuluh meter.

Bapak saya termasuk yang paling anti memasang penghalang yang dalam bahasa Inggris disebut "speed bump" itu. Kata beliau duri di jalan saja harusnya disingkirkan, ini malah hambatannya sengaja dibikin, menzolimi pengguna jalan itu namanya. Jadilah depan rumah kami dulu tak pernah dipasangi polisi tidur, tapi etapi, tetangga kiri kanan lah yang memasang :))

Dan sebenarnya sih, bukan tanpa alasan warga kampung dengan tanpa komando memasangnya. Penghalang yang biasanya dibuat dari cor-coran semen di atas kayu atau besi itu umumnya dipasang di jalan yang baru diaspal. Salah satu alasannya adalah dengan mulusnya jalan, naluri para titisan Valentino Rossi untuk menggeber motor bebek dan skutik kriditan ortu mereka akan tersalurkan. Remaja-remaja tanggung tanpa SIM itu bisa melibas apa saja, termasuk anak-anak kecil yang tak berdosa.

Dan di RT sebelah pernah ada kejadian ketika ada penjambret kejar-kejaran dengan polisi, masuk ke kampung kami yang jalannya baru diaspal usai kampanye pilkada, di simpang tiga si penjambret lepas kendali, seorang ibu muda melayang nyawanya. Esoknya polisi tidur di sekitar jalan itu melonjak jumlahnya hingga tiga kali lipat.

Cuma ya itu tadi, terlepas dari abege labil dan para pengendara ugal-ugalan itu, seringnya polisi tidur dibuat tanpa mengindahkan standar dan aturan yang berlaku. Tingginya gila-gilaan, bahkan motor bebek saya yang ceper dulu kerap jadi korban. Belum lagi, karena desain yang tidak lulus uji kelayakan dan kepantasan, malah jalan yang baru diaspal itu yang malah ikut rusak tergerus pecahan semen, apalagi ketika truk pasir lewat. Niat mau memelihara jalan justru malah mempercepat kerusakan jalan yang aspalnya sudah tak seberapa dikorup pemborong.

Setelah gugling sebentar, akhirnya saya menemukan peraturan terkait, yaitu Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan. Dalam aturan ini disebutkan antara lain:
1. bentuknya menyerupai trapesium,
2. tingginya maksimum 12 cm,
3. sisi miringnya derajat kelandaiannya maksimum 15 derajat,
4. lebarnya minimum 15 cm,
5. harus dicat serong-serong warna putih.

Aturan lengkapnya bisa diunduh di sini. Untuk gambarnya bisa dilihat di bawah ini:


Nah, jadi gimana, sudahkah polisi tidur di jalan kampungmu memenuhi peraturan di atas?

22 Mar 2012

Sepanjang Perjalanan Mudik

Jauh berjalan banyak yang dilihat, kata pepatah. Berhubung saya sudah cukup lama tak mudik ke kampung halaman bapak saya di Mandampa (sebuah desa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan), banyak pula hal yang saya lihat dan dengar sepanjang jalan. Dari Banjarmasin ke desa ini, jaraknya sekitar 140 km, ditempuh dengan mobil angkutan antar kota, dan sebagian besar melewati jalan negara terbesar di provinsi ini.

Kebetulan saya dan bapak duduk di kursi depan mobil Colt yang kami tumpangi, dan pak sopir yang juga tetangga dari desa sebelah, punya banyak hal untuk diceritakan sepanjang jalan.

Yang pertama adalah soal jalan yang diklaim mulus sudah saat kampanye dulu. Di beberapa wilayah nampak proyek pelebaran dan pemasangan siring jalan yang tak selesai, menyisakan lubang-lubang berbahaya di pinggir jalan. Bahkan ilalang yang tumbuh di situ sudah setinggi orang dewasa, mengafirmasi pernyataan pak sopir kalau proyek yang disupervisi orang-orang Australia ini sudah terbengkalai hampir setahun lamanya. Di banyak beberapa titik juga ada lubang-lubang menganga berisi air, menanti mangsa kendaraan-kendaraan yang kurang awas.
Sementara itu, di setiap kota yang kami lewati, pemandangan serupa adalah makin maraknya tugu-tugu bermunculan, dengan desain yang sama, bundaran di tengah jalan, berpola lingkaran, dan sedikit hiasan terkait daerah kebanggaan. Obelisk-obelisk mini simbol chauvinisme, ambisi penguasa, sekaligus proyek sarat 'potensi'.

Tak lupa pak sopir juga bercerita tentang 'raja-raja kecil' di daerah: para bos batubara, yang rumahnya sebesar istana di sinetron Punjabi, yang pengaruhnya lebih besar dari bupati atau anggota dewan, dan kerap menjadikan partai dan basis massa sebagai kendaraan politik. Ini membuka cakrawala saya soal betapa daya tahan partai yang sudah berkuasa sedemikian lama itu memang tak terkalahkan; bahwa fanatisme massa yang begitu kuat di daerah, ditambah 'hutang budi' karena terbukanya lapangan kerja di daerah (terutama sebagai sopir truk pengangkut batubara) jauh lebih efektif dalam meraup suara ketimbang lagak sok kritis dan aksi golput orang-orang terpelajar di kota. Ketika si Adul, misalnya, dapat kerja sebagai sopir truk untuk Tuan Takur, maka ayah ibu, kakak adik, dan istri anak Adul punya hutang budi luar biasa kepada Tuan, karena telah mengangkat derajat ekonomi keluarga mereka. Konsekuensinya, ketika Tuan suka dengan baju warna #, maka Adul sekeluarga akan 'merasa' wajib memakai baju warna #... Inilah realita politik, yang berlepas dari idealisme dan utopia.

Terakhir, tak lupa beliau bercerita tentang rekrutmen pegawai abdi negara yang sejak dulu sarat kekentalan dan sentimen kedaerahan. Bahwa jalan yang lebih mulus bisa diperoleh anak yang ortunya kebetulan dulu sekampung dengan pejabat berwenang, baik itu saat sekolah, kuliah, hingga beroleh pekerjaan dan jabatan. Tak lupa juga isu 'penjatahan' oleh pejabat berwenang dari pulau di selatan terkait akademi bersenapan dan berpentungan. Ini mungkin hanya obrolan pengisi perjalanan semata, tanpa bukti, tanpa saksi; meskipun tetap saja membuat saya merenungkan berita-berita belakangan ini, tentang banyaknya pelayan negara yang katanya tak kompeten di bidangnya...

Sampai di satu titik, ketika saya tiba-tiba tersadar, kalau saya tak akan bisa bahagia, jika terlalu banyak memikirkan, meributkan, dan menaruh curiga terhadap orang lain, yang sejatinya tak ada urusan dengan saya. Karena toh pada akhirnya nanti semua hal akan dipertanggungjawabkan...